Minggu, 27 April 2014

Posted Posted by Sekar laras in , , Comments No comments

Sanggar Seni Sekar Laras bukan hanya sebagai wadah untuk para seniman melainkan aktif juga dalam forum kegiatan diskusi sosial budaya dan pendidikan, hal ini terbukti dengan diselenggarakannya kegiatan diskusi yang rutin dilaksanakan setiap bulan sekali tepatnya setiap tanggal 15, sehingga kegiatan tersebut dinamakan "Forum Diskusi Lima Belasan".

Pada hari Selasa 15 April 2014 lalu Sanggar Seni Sekar Laras baru saja menyelenggarakan Forum Diskusi Lima Belasan "ke-Bongasan ke-Bongasin" yang bertemakan mengusung kebersamaan untuk perubahan bongas. Dalam kegiatan tersebut banyak sekali pembahasan menarik yang diperbincangkan, diantaranya peran kaula muda dalam memajukan bangsa, mulai dari Bongas untuk Bangsa.

Kegiatan tersebut berlangsung dari pukul 19.30 WIB sampai larut malam dan berjalan dengan khidmat sesuai dengan yang diharapkan, selain itu juga kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari aparatur pemerintah, warga masyarakat, dan para tamu undangan.

Forum Diskusi Lima Belasan tersebut dipimpin langsung oleh pendiri Sanggar Seni Sekar Laras yaitu kang Darto, dengan narasumber dari berbagai instansi, diantaranya dari Dinas Pertanian, Koperasi, Polsek Sumberjaya, dan Kabag SDM pemerintah desa. Dari diskusi tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa kebersamaan dan peran serta masyarakat dari semua lapisan sangat penting untuk memajukan bangsa, mulai dari aparatur pemerintah dan semua warga, sebagai bentuk komitmen dalam menuju perubahan Bongas untuk Bangsa.

Senin, 31 Maret 2014

Posted Posted by Sekar laras in , , , , Comments No comments

Tari wayang mulai dikenal masyarakat pada masa kesultanan Cirebon pada abad ke-16 oleh Syekh Syarif Hidayatullah, yang kemudian disebarkan oleh seniman keliling yang datang ke daerah Sumedang, Garut, Bogor, Bandung dan Tasikmalaya.

Tari wayang memiliki tingkatan atau jenis karakter yang berbeda misalnya karakter tari pria dan wanita. Karakter tari wanita terdiri dari Putri Lungguh untuk tokoh Subadra dan Arimbi serta ladak untuk tokoh Srikandi.
Sedangkan karakter tari pria terdiri dari : 
  • Satria Lungguh untuk tokoh Arjuna, Abimanyu, dan Arjuna Sastrabahu.
  • Satria Ladak Lungguh untuk tokoh Arayana, Nakula dan Sadewa
  • Satria Ladak Dengah/Kasar untuk tokoh Jayanegara, Jakasono, Diputi Karna dan sebagainya
  • Monggawa Dengah/Kasar seperti Baladewa dan Bima
  • Monggawa Lungguh seperti Antareja dan Gatotkaca
  • Denawa Raja seperti Rahwana dan Nakula Niwatakawaca.
Secara garis besar, jika dilihat dari segi koreografinya tari wayang memiliki tiga gerakan utama yaitu :
Pokok ialah patokan tarian, gerak tersebut antara lain adeg-adeg, jangkung ilo, mincid, keupat, gedut, kiprahan, tindak tilu, engkek gigir, mamandapan, dan calok sembahan

Peralihan ialah gerak sebagai sisipan yang digunakan sebagai peralihan dari gerak satu ke gerak yang lainnya. Misal cindek, raras, trisi dan gedig. Khusus ialah gerak secara spesifik yang terdapat pada tari tertentu.

Sumber.
Posted Posted by Sekar laras in , , , Comments No comments

Jenis Ibing (tari) Topeng yang menyebar di Kabupaten Cirebon, Indramayu dan Majalengka provinsi Jawa Barat. Pertunjukkannya sehari suntuk (sedina/sadinten). Dipertunjukkan setela pementasan Wayang Kulit pada upacara Babarit.Selain sebagai pelengkap setelah upacara Babarit. 

Topeng Dinaan pun di pertunjukkan pada acara selamatan, khitanan, pernikahan bahkan pada pesta kenegaraaan atau hari-hari penting lainnya. Dalam topeng dinaan disajikan tari topeng watak yang terdiri dari: Tari Topeng Panji, melambangkan manusia yang berkelakuan baik, bersih seperti bayi baru lahir. 

Tari Topeng Panji berwatak Lungguh (tenang); Tari Topeng Pamindo melambangkan orang beranjak remaja, berwatak Ganjen (lincah); Tari Topeng Rumiang baru beranjak akan dewasa, berwatak agak ganjen ; Tari Topeng Tumenggung, melambangkan orang yang sudah dewasa, berwatak mapan (mempunyai keyakinan); Tari Topeng Kalana melambangkan orang yang sudah mempunyai waktu, berwatak garang. Untuk memperpanjang waktu pagelaran, pertunjukannya diselingi oleh Bodor (lawakan) dengan Ibing Topeng Bodor, yang kadang-kadang pula disertai oleh Nayaga uang muncul di pentas dan pada sat ini penari utama beristirahat. Tari Topeng Bodornya yaitu Pentul (laki-laki) dan Nyo (wanita) yang muncul pada adegan terpisah. Pada Tari Tumenggung disertai oleh Tari Jinggaanom yang bersifat agak jenaka.